Kelas Senyuman Terindah
Kring..kring..kring! Suara alarm jam membangunkanku di pagi yang dingin, kutarik selimutku kembali menutupi badan. Hangat. Mimpi kembali mengajakku ke dunianya, baru selangkah aku menapakkan kakiku di dunia mimpi, terdengar suara ketukan pintu membangunkanku. Dengan perasaan kaget aku terbangun, kakekku sedang mengetuk pintu kamar membangunkan aku. Kulihat jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku baru ingat, hari Minggu ini tanggal 25 April 2010, ada kelas yang selalu aku tunggu-tunggu setiap bulannya, ya benar, kelas itu adalah kelas Budi Pekerti. Dengan terburu-buru aku mandi, makan pagi, dan setelah itu aku mengerjakan PR. Tanpa terasa jarum jam sudah menunjuk pukul 7.30, sedangkan PR yang harus aku selesaikan benar-benar susah, sekilas dibenakku terlintas, bisakah PRku selesai tepat pada waktunya?
Pukul 8.30 Wib, aku tiba di kantor Yayasan Buddha Tzu Chi di Mangga Dua Jakarta. Teman-teman yang datang sudah begitu banyak dan bagusnya PRku bisa selesai tepat pada waktunya, meski kedatanganku sedikit terlambat tapi untung kelas masih belum dimulai, sehingga aku masih bisa mengikuti kelas dari awal pelajaran dan acara. “Hey Russel, sini-sini. Barisanmu ada disini,” ajak Raymond. Sambil tersenyum dan sedikit tertawa Raymond memanggilku. Raymond adalah salah satu teman yang aku kenal di kelas Budi Pekerti. Langsung saja aku mengikuti barisan Raymond. Setiap barisan yang ada, begitu rapi, dan dengan keadaan tetap rapi kami masuk ke dalam ruangan kelas. Acara pun dimulai dengan menyanyikan lagu “Gan En”. setelah itu Shigu-shigu (relawan wanita-red) mengajarkan kami isyarat tangan. Nah, bagian ini nih yang aku suka, sambil bercanda dengan si Raymond aku belajar isyarat tangan, itung-itung biar ga ngantuk, tariannya juga asik dan mudah dimengerti. Selain belajar isyarat tangan Shigu-shigu juga mengajak kami bermain menggunakan koin dua ratus rupiah. Cara mainnya kita harus bisa memindahkan koin saja sih. Tetapi koinnya harus kita taruh di jempol kita, lalu kita pindahkan ke jempol teman kita yang ada di sebelah kita, sekilas memang sepertinya mudah, akan tetapi setelah dilakukan ternyata lumayan rumit juga.
Selain kelas Budi Pekerti untuk anak-anak SD, pada hari yang sama kelas untuk anak SMP dan SMA (Tzu Zhao) pun diadakan di tempat yang sama. Pada kelas Budi Pekerti kali ini, anak-anak diajak bagaimana berdiri menggunakan satu kaki, dan menulis menggunakan kaki. Jadi inti dari kegiatan kali ini adalah anak-anak diajarkan dan merasakan langsung kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang terlahir tidak sempurna ataupun mengalami kecelakaan hingga kehilangan salah satu anggota tubuh. Setelah merasakan bagaimana susahnya menulis dan berdiri menggunakan satu kaki, anak-anak diajak menonton sebuah acara yang menceritakan kegigihan seseorang yang cacat sejak lahir. Di wajah mereka terlihat jika mereka begitu tersentuh dengan semangat dan kegigihan orang yang terlahir cacat tetapi masih tetap mau berusaha hingga bisa sukses.
Sumber http://www.tzuchi.or.id/view_berita.php?id=1085&daerah=Jakarta&misi=Pendidikan